Khutbah Idul Fitri: Kembali ke Fitrah
KHUTBAH IDUL FITRI
Tema: Kembali ke Fitrah – Air Mata Taubat dan Keajaiban Saling Memaafkan
Khutbah Pertama
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Walillahil Hamd
الحمد لله الذي هدانا للإيمان وبلغنا شهر رمضان
الحمد لله الذي أكرمنا بالصيام والقيام وتلاوة القرآن
الحمد لله الذي بلغنا يوم العيد وجعلنا من عباده الشاكرين.
Segala puji bagi Allah SWT yang telah mempertemukan kita dengan bulan Ramadhan, membimbing kita dalam puasa dan ibadah, lalu mengantarkan kita hingga hari kemenangan ini, hari Idul Fitri yang penuh kemuliaan.
Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, kepada keluarganya yang suci, para sahabatnya, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Hari ini adalah hari yang sangat agung.
Hari ketika bumi dipenuhi dengan takbir.
Hari ketika langit dipenuhi rahmat.
Hari ketika hati manusia dipenuhi harapan akan ampunan Allah.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar Walillahil Hamd
Hari ini disebut Idul Fitri, hari kembali kepada fitrah.
Allah SWT berfirman:
فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu.”
(QS Ar-Rum: 30)
Fitrah adalah kesucian jiwa.
Fitrah adalah hati yang bersih.
Fitrah adalah jiwa yang kembali kepada Allah.
Ramadhan adalah perjalanan pulang menuju fitrah itu.
Selama sebulan penuh kita belajar menahan diri.
Kita menahan lapar.
Kita menahan haus.
Kita menahan amarah.
Kita menahan keinginan.
Namun sebenarnya Ramadhan sedang mengajarkan sesuatu yang jauh lebih dalam.
Ramadhan sedang membersihkan jiwa kita.
Nabi Muhammad SAW bersabda:
“Barang siapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”
Bayangkan wahai kaum muslimin…
Jika Allah benar-benar menghapus dosa kita.
Jika lembaran hidup kita kembali bersih.
Betapa besar karunia hari ini.
Namun ada satu kenyataan yang sering kita lupakan.
Dosa kepada Allah bisa dihapus dengan taubat.
Tetapi dosa kepada manusia tidak akan terhapus sampai manusia itu memaafkan kita.
Karena itu Idul Fitri bukan hanya hari makan dan kebahagiaan.
Tetapi hari memaafkan.
Hari membersihkan hati.
Hari menghapus dendam.
Di sinilah terjadi keajaiban Idul Fitri.
Ketika dua orang yang pernah saling menyakiti…
bertemu…
berjabat tangan…
dan berkata dengan tulus:
"Maafkan saya."
Dan dijawab:
"Saya memaafkan."
Pada saat itu…
bukan hanya dua tangan yang saling berjabat…
tetapi dua hati yang kembali bersih.
Dan dosa yang berat…
jatuh berguguran…
seperti daun kering yang jatuh dari pohonnya.
Itulah keajaiban memaafkan.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah
Ada dosa yang sangat berat di dunia ini.
Dosa itu adalah dosa kepada kedua orang tua.
Allah SWT berfirman:
وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ
وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا
“Tuhanmu memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia dan berbuat baik kepada kedua orang tua.”
(QS Al-Isra: 23)
Saudara-saudaraku…
Pernahkah kita memikirkan…
Berapa banyak pengorbanan ibu kita?
Ketika kita masih kecil…
kita menangis di tengah malam…
dan ibu kita bangun…
menggendong kita…
tanpa pernah mengeluh.
Ayah kita bekerja keras…
berkeringat di bawah panas matahari…
agar kita bisa makan.
Tetapi ketika kita dewasa…
kadang kita lupa.
Kadang kita berbicara keras kepada mereka.
Kadang kita menunda menelpon mereka.
Kadang kita lebih sibuk dengan dunia kita.
Hari ini… di hari Idul Fitri…
mari kita jujur kepada diri sendiri.
Berapa kali kita membuat ibu kita menangis?
Berapa kali kita mengecewakan ayah kita?
Allahu Akbar…
Betapa banyak anak yang hari ini ingin mencium tangan ibunya…
tetapi ibunya sudah berada di dalam kubur.
Betapa banyak orang yang ingin memeluk ayahnya…
tetapi ayahnya sudah tiada.
Jika hari ini orang tua kita masih hidup…
itu adalah nikmat yang luar biasa.
Pulanglah setelah shalat ini.
Peluk mereka.
Cium tangan mereka.
Dan katakan dengan suara yang mungkin bergetar:
"Ibu… Ayah… maafkan aku."
Karena tidak ada penyesalan yang lebih pedih…
daripada menyesal setelah orang tua tiada.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Izinkan saya menceritakan sebuah kisah sederhana yang sering membuat hati manusia bergetar.
Ada seorang pemuda yang hidup jauh dari kampung halamannya.
Ia sibuk dengan pekerjaannya.
Ia sibuk dengan dunianya.
Ibunya tinggal sendirian di desa.
Setiap kali ibunya menelpon, pemuda itu sering berkata:
"Iya Bu, nanti saya telpon lagi… saya sedang sibuk."
Kadang ibunya ingin berbicara lebih lama…
tetapi anak itu selalu berkata:
"Saya ada urusan Bu, nanti saja."
Hari demi hari berlalu.
Bulan demi bulan berlalu.
Hingga suatu hari menjelang Idul Fitri…
pemuda itu berniat pulang ke kampung halamannya.
Ia ingin meminta maaf kepada ibunya.
Di sepanjang perjalanan ia membayangkan:
Ia akan mencium tangan ibunya…
Ia akan memeluk ibunya…
Ia akan berkata:
"Ibu… maafkan aku."
Namun ketika ia sampai di rumah…
suasana rumah itu sunyi.
Tetangganya berkata dengan pelan:
"Ibumu telah meninggal tiga hari yang lalu."
Allahu Akbar…
Pemuda itu berlari menuju kuburan ibunya.
Ia jatuh di atas tanah kubur itu.
Ia menangis.
Ia memeluk tanah itu.
Dan dengan suara penuh penyesalan ia berkata:
"Ibu… maafkan aku… maafkan aku…"
Tetapi…
Ibunya sudah tidak bisa menjawab lagi.
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah…
Betapa banyak manusia yang mengalami penyesalan seperti itu.
Selama orang tua masih hidup…
kita merasa mereka akan selalu ada.
Kita menunda meminta maaf.
Kita menunda berbakti.
Namun ketika mereka pergi…
yang tersisa hanyalah penyesalan yang tidak bisa kembali.
Karena itu…
Jika hari ini orang tua kita masih hidup…
jangan tunggu besok.
Jangan tunggu nanti.
Pulanglah setelah shalat ini.
Peluk ibu kita.
Cium tangan ayah kita.
Dan katakan dengan hati yang tulus:
"Ibu… Ayah… maafkan aku."
Karena mungkin…
Idul Fitri tahun depan belum tentu kita masih memiliki kesempatan itu.
Allahu Akbar… Allahu Akbar… Allahu Akbar Walillahil Hamd
Hari ini adalah hari kebahagiaan.
Tetapi juga hari air mata.
Air mata taubat.
Air mata kerinduan kepada orang tua.
Air mata penyesalan atas dosa-dosa kita.
Namun ketahuilah…
Allah adalah Tuhan yang Maha Pengampun.
Allah berfirman:
قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ
لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ
“Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap dirinya, janganlah berputus asa dari rahmat Allah.”
(QS Az-Zumar: 53)
Tidak peduli seberapa banyak dosa kita.
Tidak peduli seberapa jauh kita pernah tersesat.
Selama kita kembali kepada Allah…
Allah selalu membuka pintu ampunan.
Para ulama berkata:
“Satu air mata taubat yang jatuh karena takut kepada Allah dapat memadamkan lautan dosa.”
Karena itu wahai kaum muslimin…
Jika hari ini hati kita terasa lembut…
Jika hari ini kita ingin memaafkan orang yang pernah menyakiti kita…
Jika hari ini kita ingin memeluk orang tua dengan air mata…
maka ketahuilah…
itulah tanda kemenangan Ramadhan.
Idul Fitri bukan sekadar pakaian baru.
Idul Fitri bukan sekadar makanan yang lezat.
Idul Fitri adalah hati yang baru.
Idul Fitri adalah jiwa yang kembali kepada Allah.
أقول قولي هذا وأستغفر الله لي ولكم
فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم
Khutbah kedua
الحمد لله حمداً كثيراً طيباً مباركاً فيه
وأشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له
وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
اللهم اغفر للمؤمنين والمؤمنات
والمسلمين والمسلمات
الأحياء منهم والأموات
اللهم اغفر لنا ولوالدينا
وارحمهما كما ربيانا صغارا
اللهم من كان والده أو والدته حيين
فأطل عمرهما على طاعتك
ومن كانا تحت التراب
فأنر قبورهما واجعل الجنة مثواهما
اللهم تقبل منا صيامنا وقيامنا
واجعلنا من العائدين الفائزين المقبولين
ربنا آتنا في الدنيا حسنة
وفي الآخرة حسنة
وقنا عذاب النار
عباد الله
إن الله يأمر بالعدل والإحسان وإيتاء ذي القربى
فاذكروا الله العظيم يذكركم
واشكروه على نعمه يزدكم
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Komentar
Posting Komentar