Postingan

Menampilkan postingan dari Mei, 2026

Arafah dalam Perspektif Ahli Ma‘rifat

Gambar
Tinjauan Analisis Ma‘rifat: Hikmah ‘Arafah dalam Perspektif Ahli Ma‘rifat Mukadimah Hari ‘Arafah dalam kerangka ma‘rifat tidak sekadar dipahami sebagai ritual haji, melainkan sebagai momen eksistensial di mana manusia berhadapan langsung dengan hakikat dirinya. Dalam perspektif Ahli Ma‘rifat, ‘Arafah merupakan titik kulminasi kesadaran ontologis: kesadaran akan kefakiran wujud (faqr al-wujūd) di hadapan Yang Maha Mutlak. Di sini, keberadaan manusia tidak lagi dipahami sebagai entitas mandiri, tetapi sebagai manifestasi yang sepenuhnya bergantung pada Allah SWT. Oleh karena itu, ‘Arafah menjadi ruang batin untuk kembali dari ilusi kemandirian menuju realitas kehambaan. * ‘Arafah sebagai Epistemologi Ma‘rifat * Secara etimologis, “‘Arafah” berasal dari akar kata: عَرَفَ — يَعْرِفُ (mengetahui, mengenal) Dalam analisis ma‘rifat, kata ini menunjukkan bahwa inti perjalanan spiritual manusia adalah pengetahuan eksistensial, bukan sekadar konseptual. Ahli Ma‘rifat menegaskan...

Perempuan: Teofani Keindahan dan Poros Keseimbangan Kosmik; Sebuah Analisis Filsafat dan Irfan dalam Tradisi Ahlul Bait

Gambar
Perempuan: Teofani Keindahan dan Poros Keseimbangan Kosmik Sebuah Analisis Filsafat dan Irfan dalam Tradisi Ahlul Bait Berikut adalah sebuah analisis yang lebih mendalam, mengintegrasikan lensa Filsafat (Hikmah) dan Irfan (Gnosis/Tasawuf Falsafi) khas tradisi Ahlul Bait alaihimussalam. Dalam pendekatan ini, perempuan tidak hanya dilihat dari sisi sosiologis atau moralitas praktis, melainkan sebagai Teofani (Tajalli) Nama-nama Ilahi, pusat keseimbangan kosmik, dan manifestasi dari Jamal (Keindahan) Tuhan yang berpadu dengan Jalal (Keagungan). Dalam khazanah pemikiran Islam, khususnya dalam tradisi Hikmah Muta’aliyah dan Irfan yang diwariskan oleh Ahlul Bait, realitas perempuan melampaui sekadar peran sosial atau biologis. Perempuan adalah simbol dari Al-Jamal Al-Ilahi (Keindahan Ilahi) yang termanifestasi dalam alam materi (alam al-mulk), sementara laki-laki sering diasosiasikan dengan Al-Jalal (Keagungan/Kekuatan). Kesejahteraan peradaban bergantung pada harmoni ant...

Antara Ijab Kabul dan Tradisi: Harmonisasi Syariat dan Adat dalam Pernikahan Muslim

Gambar
Antara Ijab Kabul dan Tradisi: Harmonisasi Syariat dan Adat dalam Pernikahan Muslim KUA Lau, 13 Mei 2026 — Harmonisasi antara syariat Islam dan tradisi adat dalam pernikahan menjadi perhatian penting dalam pembinaan calon pengantin di Kantor Urusan Agama (KUA) Kecamatan Lau. Hal ini disampaikan oleh Penghulu KUA Lau, Syamsir Nadjamuddin, saat memberikan kuliah singkat kepada tiga pasang calon pengantin di Aula KUA Lau, Rabu (13/5). Dalam pemaparannya, Syamsir menegaskan bahwa pernikahan dalam masyarakat Muslim Indonesia tidak sekadar merupakan ikatan legal formal antara dua individu. Lebih dari itu, pernikahan adalah pertemuan antara dua kekuatan besar, yakni keteguhan syariat Islam dan keluwesan budaya lokal yang telah mengakar dalam kehidupan masyarakat. “Ijab kabul adalah inti dari keabsahan pernikahan secara agama. Namun dalam praktik sosial, pernikahan sering kali diiringi oleh berbagai rangkaian adat yang panjang dan kompleks. Tantangannya bukan memilih sa...