Isra Mi‘raj dalam Cahaya Tasawuf ‘Irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ Bagian 2
Mukadimah: Mi‘raj sebagai Panggilan Ruh
Dalam pandangan tasawuf ‘irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ, Isra Mi‘raj bukan sekadar peristiwa sejarah yang dialami oleh Nabi Muhammad ﷺ, melainkan pola abadi perjalanan ruh setiap insan menuju Tuhan. Apa yang terjadi pada malam Mi‘raj adalah gambaran sempurna tentang kerinduan makhluk kepada asal cahaya dirinya.
Mi‘raj adalah kisah cinta antara hamba dan Tuhan; sebuah undangan ilahi agar manusia meninggalkan bumi ego, menuju langit ma‘rifah.
Isra: Perjalanan Pelepasan dari Alam Kasar
Isra—perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha—dalam bahasa ‘irfan, bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan pelepasan ruh dari kungkungan dunia materi.
Masjidil Haram melambangkan pusat lahiriah ibadah, sedangkan Masjidil Aqsha melambangkan kesucian batin dan kesadaran ruhani.
Dalam tafsir batin Ahlul Bait Nabi ﷺ, Isra adalah tahap tazkiyatun nafs—pembersihan jiwa dari keterikatan dunia, ambisi ego, dan bayang-bayang nafsu. Tanpa Isra batin, Mi‘raj ruhani tidak mungkin terjadi.
Mi‘raj: Pendakian Ruh Menuju Cahaya
Mi‘raj dalam ‘irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ adalah kenaikan kesadaran wujud, dari alam inderawi menuju alam malakut, lalu jabarut, hingga mencapai batas yang disebut Sidratul Muntaha—bukan sebagai tempat fisik, tetapi batas pengetahuan makhluk.
Pada maqam qāba qawsayn aw adnà, Rasulullah ﷺ tidak “melihat” Allah dengan mata, tetapi lenyap dalam kehadiran-Nya.
Dalam bahasa ‘irfan, ini adalah fanā’ fiLlāh—sirnanya kesadaran diri dalam kesadaran Ilahi.
Mi‘raj Ruh dan Jasad: Kesempurnaan Insan Kāmil
Ajaran Ahlul Bait Nabi ﷺ meyakini bahwa Mi‘raj terjadi dengan ruh dan jasad sekaligus. Dalam perspektif tasawuf ‘irfan, hal ini menandakan kesempurnaan insān kāmil, di mana jasad tidak lagi menjadi hijab, melainkan kendaraan cahaya.
Rasulullah ﷺ telah menyucikan jasadnya dengan ibadah, akhlak, dan cinta Ilahi, sehingga tubuh pun layak menyertai perjalanan ruh. Inilah puncak harmonisasi lahir dan batin
Wilāyah: Rahasia Mi‘raj yang Tersingkap
Dalam riwayat ‘irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ, pada malam Mi‘raj Rasulullah ﷺ diperlihatkan cahaya wilāyah—cahaya kepemimpinan ruhani yang berlanjut melalui para Imam Ahlul Bait. Wilāyah bukan sekadar otoritas, tetapi saluran cahaya Tuhan kepada makhluk.
Melalui Mi‘raj, Rasulullah ﷺ menyaksikan bahwa jalan menuju Allah setelah beliau adalah jalan cinta dan bimbingan para wali, yang puncaknya terwujud dalam Imamah. Inilah rahasia kontinuitas hidayah dalam kosmos.
Salat: Mi‘raj Harian Seorang Mukmin
Dalam tasawuf ‘irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ, perintah salat yang dibawa Rasulullah ﷺ dari Mi‘raj adalah undangan universal bagi setiap mukmin untuk mengalami Mi‘raj batin. Salat bukan ritual mekanis, melainkan latihan kehadiran (hudūr).
Setiap rukuk adalah kerendahan ego
Setiap sujud adalah kefanaan diri
Setiap salam adalah kembali ke dunia dengan hati yang tercerahkan
Karena itu dikatakan:
“Salat adalah Mi‘raj orang beriman.”
Mi‘raj sebagai Peta Perjalanan Ruhani
Isra Mi‘raj, dalam kacamata ‘irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ, adalah peta jalan sulūk:
Isra: penyucian diri
Mi‘raj: pendakian ma‘rifah
Sidratul Muntaha: batas ilmu
Qurb Ilahi: fanā’ dan baqā’
Semua ini menjadi teladan abadi bagi para pencari Tuhan, sebagaimana diajarkan dalam khazanah hikmah Ahlul Bait dan teks-teks spiritual seperti Nahjul Balaghah.
Penutup: Mi‘raj yang Terus Berlangsung
Dalam tasawuf ‘irfan Ahlul Bait Nabi ﷺ, Isra Mi‘raj tidak pernah berakhir. Ia terus berlangsung dalam diri setiap insan yang membersihkan hatinya, menundukkan egonya, dan menapaki jalan cinta.
Rasulullah ﷺ telah membuka pintu langit.
Kini, manusia hanya perlu menempuh jalan batin untuk memasukinya.
Referensi Sumber Pustaka
Al-Qur’an al-Karim, QS. Al-Isrā’ [17]: 1
Al-Kulaini, Al-Kāfī, Tehran: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah
Al-Majlisi, Bihār al-Anwār, Beirut: Mu’assasah al-Wafā’
Imam Ali bin Abi Thalib, Nahjul Balaghah, Khutbah dan Hikmah pilihan
Imam Ja‘far ash-Shādiq, riwayat-riwayat ma‘rifah dan wilāyah dalam kitab hadis Ahlul Bait
Mulla Shadra, Al-Asfār al-Arba‘ah, pembahasan wujud dan perjalanan ruh
Henry Corbin, En Islam Iranien: Aspects Spirituels et Philosophiques, Paris
Seyyed Hossein Nasr, Islamic Spirituality: Foundations, London
Komentar
Posting Komentar