Isrā’ Mi‘rāj sebagai Perjalanan Imāmah dalam Perspektif Teologi Ahlul Bait
Isrā’ Mi‘rāj sebagai Perjalanan Imāmah dalam Perspektif Teologi Ahlul Bait
Syamsir Nadjamuddin
Abstrak
Peristiwa Isrā’ Mi‘rāj umumnya dipahami sebagai perjalanan fisik Nabi Muhammad ﷺ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha, lalu naik menembus lapisan langit. Namun, dalam perspektif teologi Ahlul Bait, peristiwa ini memiliki makna yang jauh lebih mendalam, yakni sebagai manifestasi perjalanan Imāmah—kepemimpinan ilahi yang bersifat spiritual, kosmik, dan normatif. Artikel ini bertujuan menjelaskan Isrā’ Mi‘rāj sebagai peneguhan maqām Imāmah Nabi Muhammad ﷺ, sekaligus fondasi keberlanjutan Imāmah pada Ahlul Bait setelah beliau. Dengan pendekatan teologis dan filosofis, artikel ini menegaskan bahwa Isrā’ Mi‘rāj bukan sekadar peristiwa historis, melainkan deklarasi kepemimpinan ilahi dalam tatanan semesta.
Kata kunci: Isrā’ Mi‘rāj, Imāmah, Wilāyah, Ahlul Bait, Kepemimpinan Ilah
Pendahuluan
Isrā’ Mi‘rāj merupakan salah satu peristiwa paling fundamental dalam sejarah kenabian Islam. Di satu sisi, ia sering direduksi menjadi mukjizat perjalanan malam dan kenaikan fisik Nabi ﷺ. Di sisi lain, tradisi teologi Ahlul Bait memandang Isrā’ Mi‘rāj sebagai peristiwa multidimensi yang memuat pesan kepemimpinan ilahi (Imāmah). Artikel ini berangkat dari tesis bahwa Isrā’ Mi‘rāj adalah perjalanan ubudiyah sekaligus perjalanan Imāmah, di mana Nabi Muhammad ﷺ ditampakkan sebagai Imām seluruh makhluk.
Isrā’ Mi‘rāj: Lebih dari Sekadar Perjalanan Fisik
Al-Qur’an membuka peristiwa Isrā’ dengan ungkapan:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا
Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam (QS. al-Isrā’: 1).
Penggunaan istilah bi ‘abdihī (dengan hamba-Nya) menunjukkan bahwa kunci Isrā’ Mi‘rāj bukanlah tubuh, ruang, atau waktu, melainkan maqām ubudiyah yang sempurna. Dalam teologi Ahlul Bait, ubudiyah total merupakan syarat utama Imāmah, karena hanya hamba yang sepenuhnya tunduk kepada Allah yang layak menjadi pemimpin ilahi. Dengan demikian, Isrā’ Mi‘rāj adalah perjalanan penyingkapan maqām kepemimpinan, bukan sekadar perpindahan geografis.
Imāmah sebagai Kepemimpinan Kosmik dan Spiritual
Berbeda dengan pemahaman politik semata, Imāmah dalam mazhab Ahlul Bait dimaknai sebagai kepemimpinan ruhani dan kosmik yang menghubungkan langit dan bumi. Imām adalah hujjah Allah, poros tatanan eksistensi, dan penafsir otoritatif kehendak ilahi. Dalam konteks ini, Isrā’ Mi‘rāj berfungsi sebagai peneguhan Nabi Muhammad ﷺ sebagai Imām universal—pemimpin para nabi, malaikat, dan seluruh makhluk.
Indikasi Isrā’ Mi‘rāj sebagai Perjalanan Imāmah
1. Nabi Mengimami Para Nabi
Riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah ﷺ mengimami salat para nabi di Masjidil Aqsha. Peristiwa ini bukan simbol kehormatan biasa, melainkan deklarasi Imāmah universal. Jika setiap nabi adalah imam bagi kaumnya, maka Nabi Muhammad ﷺ adalah Imām para Imām, yang kepemimpinannya melampaui ruang dan zaman.
2. Mi‘rāj karena Wilāyah, bukan Sekadar Ilmu
Dalam riwayat Mi‘rāj, Jibril berhenti di Sidratul Muntaha, sementara Nabi ﷺ melanjutkan perjalanan. Ini menandakan perbedaan ontologis: Jibril merepresentasikan batas makhluk berilmu, sedangkan Nabi ﷺ bergerak karena wilāyah dan Imāmah. Wilāyah inilah yang memungkinkan Nabi menembus batas yang tak dapat dilampaui makhluk lain.
3. Salat sebagai Hadiah Imāmah
Salat lima waktu tidak diturunkan di bumi, tetapi diberikan di Mi‘rāj. Hal ini menunjukkan bahwa salat bukan sekadar ritual individual, melainkan sistem relasi Imām–Ummat. Dalam pandangan Ahlul Bait, tanpa Imāmah, salat kehilangan ruh kepemimpinannya dan berisiko menjadi formalitas tanpa orientasi ilahi.
Isrā’ Mi‘rāj dan Keberlanjutan Imāmah pada Ahlul Bait
Mazhab Ahlul Bait menegaskan bahwa Imāmah tidak berhenti pada Nabi Muhammad ﷺ, melainkan berlanjut melalui silsilah suci Ahlul Bait, dimulai dari Ali bin Abi Thalib a.s. Isrā’ Mi‘rāj menegaskan bahwa Imāmah adalah amanah langit, bukan hasil musyawarah sosial-politik. Ia berakar pada cahaya Muhammad–Ali, yang menjadi poros kesinambungan kepemimpinan ilahi dalam sejarah umat.
Kesimpulan
Isrā’ Mi‘rāj dalam perspektif Ahlul Bait adalah peristiwa integral yang mencakup:
perjalanan ubudiyah sempurna,
manifestasi wilāyah ilahi, dan
puncak peneguhan Imāmah kosmik.
Nabi Muhammad ﷺ di Mi‘rāj bukan sekadar “naik” secara vertikal, melainkan ditampakkan sebagai Imām semesta, yang kepemimpinannya menjadi fondasi tatanan spiritual umat dan keberlanjutan Imāmah pada Ahlul Bait.
Daftar Pustaka (Daftar Perpustakaan)
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Kulaini, Muhammad bin Ya‘qub. Al-Kāfī. Tehran: Dār al-Kutub al-Islāmiyyah.
Al-Shaduq, Muhammad bin ‘Ali. ‘Ilal al-Sharā’i‘. Qum: Mu’assasah al-A‘lamī.
Al-Majlisi, Muhammad Baqir. Bihār al-Anwār. Beirut: Mu’assasah al-Wafā’.
Thabathaba’i, Muhammad Husain. Al-Mīzān fī Tafsīr al-Qur’ān. Qum: Daftar Intisharat Islami.
Mutahhari, Murtadha. Imamah dan Kepemimpinan Spiritual. Tehran: Sadra Publications.
Nasr, Seyyed Hossein. Islamic Spirituality. London: Routledge.
Rizvi, Sayyid Saeed Akhtar. Imamate: The Vicegerency of the Prophet. Qum: Ansariyan Publications.
Komentar
Posting Komentar