Cahaya Hikmah Ahlul Bait dalam Peristiwa Mi‘raj Bagian ke-3

Kutipan ‘Irfani Imam Ali bin Abi Thalib
Dalam khazanah hikmah Imam Ali a.s.
Mi‘raj dipahami sebagai penyingkapan batin, bukan sekadar perpindahan tempat. Beliau berkata:
“Aku tidak menyembah Tuhan yang tidak aku lihat.”
(Nahjul Balaghah, Hikmah)

Ketika ditanya bagaimana beliau melihat Allah, Imam Ali menjawab:

“Mata tidak mampu melihat-Nya dengan penglihatan lahir,
tetapi hati melihat-Nya dengan hakikat iman.”

Dalam perspektif ‘irfan, inilah rahasia Mi‘raj: melihat dengan hati yang telah disucikan, bukan dengan mata jasad.

Rasulullah ﷺ pada malam Mi‘raj mencapai kesempurnaan penyaksian ini—penyaksian yang melampaui bentuk, arah, dan ruang.

Kutipan ‘Irfani Imam Ja‘far al-Shadiq
Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s. menyingkap dimensi batin Mi‘raj dengan bahasa para arif. Beliau bersabda:

“Apabila Allah mencintai seorang hamba,
Dia menyingkap tabir antara diri-Nya dan hamba itu.”

Dan dalam riwayat lain:
“Hati adalah haram Allah;
maka jangan engkau tempatkan selain Allah di dalamnya.”

Mi‘raj Rasulullah ﷺ, menurut Imam Ja‘far, adalah Mi‘raj hati yang telah menjadi haram Allah sepenuhnya—tak tersisa ruang bagi selain-Nya. Karena itu, pada maqam qāba qawsayn aw adnà, tidak ada dialog kata, hanya kehadiran mutlak.

Wilāyah sebagai Jalur Mi‘raj Ruhani
Dalam ‘irfan Ahlul Bayt, cahaya wilāyah yang diperlihatkan kepada Rasulullah ﷺ pada malam Mi‘raj adalah jalan kesinambungan sulūk. Imam Ali a.s. bukan hanya penerus kepemimpinan lahir, tetapi penjaga pintu batin menuju ma‘rifah.
Sebagaimana Nabi ﷺ adalah Mi‘raj kosmik, maka para Imam adalah Mi‘raj berkelanjutan bagi umat—penuntun ruhani yang menuntun dari syariat menuju hakikat.

Puisi–Prosa ‘Irfan: 

“Mi‘raj yang Sunyi”
Pada malam ketika bumi tertinggal,
Rasul tidak melangkah dengan kaki,
tetapi dengan hati yang telah kosong dari selain-Nya.

Langit demi langit bukanlah jarak,
melainkan lapisan hijab yang runtuh satu per satu.
Hingga di Sidratul Muntaha,
malaikat pun berhenti,
sebab cinta tak dapat ditemani oleh makhluk.
Di sana,
tiada kata,
tiada suara,
tiada aku dan Engkau.
Yang tersisa hanyalah
Dia
yang selama ini dicari
oleh setiap sujud yang tulus.
Prosa ‘Irfan: “Mi‘raj yang Diturunkan”
Mi‘raj bukan untuk menjauhkan Nabi dari manusia,
tetapi untuk mengembalikan beliau dengan cahaya.
Rasulullah ﷺ naik bukan untuk tinggal,
melainkan turun membawa salat—
tangga bagi jiwa-jiwa yang ingin menyusul.
Setiap insan memiliki Mi‘rajnya sendiri.
Bukan dengan Buraq,
melainkan dengan air mata taubat.
Bukan dengan langit,
melainkan dengan hati yang hening.

Siapa yang memurnikan batinnya,
telah memulai Isra.
Siapa yang menundukkan egonya,
telah melangkah dalam Mi‘raj.

Dalam tasawuf ‘irfan Ahlul Bayt, Isra Mi‘raj adalah peta abadi perjalanan ruh:

dibuka oleh Nabi ﷺ,
diterangi oleh Imam Ali a.s.,
dan dijelaskan kedalamannya oleh Imam Ja‘far ash-Shadiq a.s.

Mi‘raj bukan kisah yang selesai di langit,
tetapi cahaya yang menunggu untuk bangkit
di dalam hati manusia.

~ Syamsir N ~

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa yang Dibaiat dalam Tarekat: Tinjauan Irfan. Oleh: Syamsir N

Makna Filosofis Titik Nol Bone Prediksi Data Penulis, Saat Menghadiri Upacara Akbar HAB Ke-80 Kemenag RI di Kab Bone

TELLONGENG 4: DOA POHON KENABIAN DI BULAN SYA'BAN