Bias Maulid 3 NABI AKHIR ZAMAN = SEPENJANG ZAMAN ADA KENABIAN Sebagai Pusat dan Pusaran Alam Eksistensi
Salewangang Ilmu Maros-Nubuwah adalah penampakan dan penyataan hakikat-hakikat Ilahiyah, asma, dan sifat rububiah dalam maqam ‘aini (luar) yang sesuai dengan inba’ (pemberitaan) hakikat ghaibi dalam maqam ilmiyah.
Nubuwah dan inba’ ini terdapat dua maqam.
Pertama, maqam ‘aini (luar) yang merupakan penampakan hakikat-hakikat Ilahiyyah, asma, dan sifat rububiah.
Kedua, maqam ilmiyah pemberitaan ghaibi mengambil bentuk di dalamnya.
Oleh karena itu, nabi dalam konteks ini adalah vseseorang yang menampakkan hakikat-hakikat Ilahiyah, yakni makrifat-makrifat yang berhubungan dengan dzat, sifat, dan asma hadhrat Hak Swt yang sesuai dengan maqam ilmiyah.
Syekh Muhyiddin Ibnu Arabi membagi kenabian kepada kenabian ta’rifi dan tasyri’i. Menurutnya, kenabian ta’rifi tidak akan pernah terputus, sebab ia merupakan mazhar ism al-wali dan misdak inni jaailun fil ardhi khalifah (Qs: 2: 30). Kenabian ta’rifi ini juga disebut kenabian umum, karena untuk semua keturunan Adam as. Tentang masalah ini, Ibnu Arabi berkata: Kenabian ta’rifi adalah mutlak kenabian, kenabian umum dan kenabian batin. Kenabian ini tidak akan terputus dan berakhir. Langgeng sampai hari kiamat.
Adapun nabi menurut Ibnu Arabi adalah seseorang yang mendapatkan wahyu dari sisi Tuhan dengan perantara malaikat. Wahyu tersebut mengandung syariat. Nabi juga konsisten menjalankan syariat tersebut. Jika dia diutus dengan membawa syariat tersebut kepada masyarakat, maka dia juga bisa disebut Rasul.
Dari penjelasan Ibnu Arabi tentang nabi tersebut, seseorang nabi mendapatkan wahyu dari sisi Tuhan dengan perantara malaikat dalam bentuk wahyu. Ia mesti konsisten menjalankan syariat dan hukum-hukum dari Tuhan tersebut. Jika syariat itu juga untuk disampaikan kepada masyarakat, dia bukan cuma disebut nabi, tapi juga seorang rasul.
Oleh karena itu, menurut Ibnu Arabi, kendatipun kenabian dari dimensi kenabian wahyu tasyri’i terputus dengan kenabian Khatamul Anbiyaa Muhammad Saw, akan tetapi kenabian dari dimensi kenabian ta’rifi (yang juga merupakan tingkatan wilayah Muhammadi) tidak pernah terputus. Kenabian ini merupakan mazhar ism al-wali yang juga disebut kenabian umum dan berlaku untuk semua keturunan Adam as.
Dalam sebuah riwayat, Nabi Saw bersabda: Saya telah nabi sementara hadhrat Adam as masih di antara air dan tanah. Riwayat ini menerangkan tentang hakikat Muhammadi, yang merupakan pusat dan pusaran alam eksistensi. Cakupan hakikat kenabiannya meliputi seluruh tingkatan-tingkatan gaib dan syuhud alam imkan.
Menurut Ibnu Arabi, setiap nabi dari Nabi Adam as sampai nabi paling akhir, tidak satupun dari mereka memiliki kenabian kecuali mereka peroleh dari misykat-misykat Nabi Khatam Muhammad Saw, kendatipun keberadaan tinat (tanah) hadhrat Khatam Muhammad Saw dari sisi zaman, paling akhir dari mereka. Sebab hakikat Nabi Khatam Muhammad Saw secara batin dan ruhani telah ada sebelum kenabian para nabi lainnya. Mereka memperoleh kenabian dari hakikat dan ruhani tersebut.
Karena itu beliau bersabda: “Saya telah nabi sementara hadhrat Adam as masih di antara air dan tanah”, dan para nabi lainnya tidak ada mereka nabi sebelumnya kecuali ketika mereka dibangkitkan serta diutus.
Penulis: Ust Syamsunar Nurdin
Reprtase: Syamsir N
Majelis Ilmu Irfan Teori dan Hikmah Islami
Komentar
Posting Komentar