Apa yang Dibaiat dalam Tarekat: Tinjauan Irfan. Oleh: Syamsir N
Oleh: Syamsir N
Salewangang Ilmu Maros -Bai'at dalam tarekat bukan sekadar perjanjian formal antara murid dan guru spiritual (mursyid), melainkan pengikatan batin yang memiliki dimensi metafisik dan irfani. Artikel ini mengkaji makna bai'at dalam tarekat dari perspektif irfan (gnosis Islam), di mana bai'at dipahami sebagai pengikatan ruhani menuju pengenalan hakikat diri dan realitas Ilahi. Pendekatan irfani menekankan dimensi batiniah dari proses spiritual ini, bukan hanya praktik simbolik lahiriah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-hermeneutik terhadap teks-teks sufi dan irfani klasik seperti karya Ibn ‘Arabi, Imam Khomeini, dan Syekh Ahmad Sirhindi. Hasilnya, bai'at bukan hanya loyalitas terhadap mursyid, tetapi adalah penyerahan total kepada jalan ilahi yang disimbolkan melalui sang guru. Bai'at adalah awal dari perjalanan makrifat yang membimbing salik (penempuh jalan spiritual) menanggalkan ego menuju fana fi Allah.
Dalam dunia tarekat, bai'at sering kali dipandang sebagai langkah awal seseorang memasuki jalan spiritual yang terstruktur dan memiliki bimbingan. Namun demikian, pemahaman populer tentang bai'at sering kali hanya terbatas pada aspek formalitas dan tradisi. Padahal, dalam pandangan irfani (gnostik Islam), bai'at memiliki makna yang lebih dalam: sebagai ikrar batin menuju Tuhan dengan bimbingan seorang mursyid sejati.
Irfan bukan sekadar ilmu teoritis, melainkan pengalaman eksistensial dan spiritual dalam mengenal Allah. Dalam kerangka ini, bai'at merupakan gerbang awal dari transformasi eksistensial yang mendalam. Pertanyaannya: apa sebenarnya yang "dibaiat" dalam tarekat jika ditinjau dari perspektif irfan?
Hakikat Bai'at: Simbol Penyerahan Diri
Bai'at secara etimologis berasal dari akar kata “ba-ya-’a” yang berarti "bertransaksi". Dalam konteks tarekat, itu bukan jual beli materi, tetapi penyerahan total dari diri si salik kepada bimbingan spiritual mursyid. Dalam pandangan irfan, ini adalah transaksi eksistensial: penangguhan kehendak ego demi tunduk pada kehendak Ilahi.
Ibn 'Arabi menyatakan bahwa mursyid bukan hanya guru, tetapi manifestasi dari "Wali Allah" yang membawa limpahan cahaya dari Haqq (kebenaran mutlak). Ketika seorang salik membaiat mursyid, sejatinya ia membaiat Allah, sebagaimana ditegaskan dalam QS. Al-Fath:10:
“Sesungguhnya orang-orang yang berjanji setia kepadamu (Muhammad), sesungguhnya mereka berjanji setia kepada Allah.”
Dimensi Irfani dalam Bai'at
Dari perspektif irfan, sebagaimana dijelaskan Imam Khomeini dalam karya Adabus Shalat, bai'at adalah penegasan kesediaan salik untuk menempuh jalan makrifat, dengan membebaskan diri dari segala hijab yang menghalangi perjumpaan dengan Tuhan.
Ipuang HA Sahabuddin (Turikale, 2017), pernah memgungkapkan: "Bai'at bukan sekadar seremonial, melainkan janji ruhani untuk mati dari diri sendiri (fana an-nafs) dan hidup dalam Kehendak Tuhan (baqa billah).
Syekh Ahmad Sirhindi menyebut proses ini sebagai suluk irfani, di mana sang murid belajar mengenal hakikat segala sesuatu melalui bimbingan ruhani, bukan hanya teori.
Bai'at adalah awal dari proses ini: suatu ikrar dalam dunia batin bahwa salik siap untuk dibersihkan dari karat duniawi dan mendekat pada sumber cahaya sejati.
Apa yang Sebenarnya Dibaiat?
Yang dibaiat bukan hanya pribadi mursyid, melainkan kualitas rohani yang dibawanya. Dalam irfan, mursyid adalah "cermin ilahi"—dengan membaiatnya, salik sesungguhnya menyatakan kesediaan membiarkan dirinya dipoles, ditempa, dan dituntun oleh Nur Ilahi yang tercermin dalam mursyid.
Yang dibaiat adalah:
Nafsu yang siap ditaklukkan.
Hati yang siap disucikan.
Akal yang siap diterangi.
Jiwa yang siap diangkat menuju hakikat.
Bai'at bukan janji kepada manusia, tetapi ikrar kepada Allah dalam wujud perjanjian dengan wali-Nya. Maka, dalam irfan, penting memastikan mursyid adalah orang yang telah mencapai maqam hakikat, agar bai'at benar-benar membawa salik menuju penyatuan spiritual, bukan hanya loyalitas sosial
Bai'at dalam tarekat, menurut pandangan irfani, adalah pengikatan ruhani untuk menempuh jalan makrifat yang mendalam, bukan sekadar praktik formal. Ia adalah deklarasi batin untuk berjalan menuju Tuhan, dengan membebaskan diri dari ego dan dunia, serta menyerahkan diri kepada bimbingan mursyid yang sah. Dalam proses ini, yang dibaiat bukan hanya guru atau tarekat, melainkan hakikat spiritualitas itu sendiri—yaitu kesediaan untuk fana dan menyatu dalam cinta Ilahi.
Daftar Pustaka
Ibn 'Arabi. Futuhat al-Makkiyah.
Imam Khomeini. Adabus Shalat.
Syekh Ahmad Sirhindi. Maktubat.
Nasr, Seyyed Hossein. Knowledge and the Sacred.
Chittick, William. The Sufi Path of Knowledge.
Ungkapan Sufistik, HA Sahabuddin Turikale
Komentar
Posting Komentar